
Selasa (31 Maret 2009) pagi, udara masih dingin tepat pukul 06.30 WIB, siswa-siswi Sekolah Peradaban Serang begitu antusias memasuki gerbang sekolah yang asri. Tidak seperti hari-hari biasa, jam sekolah yang masuk pukul 07.30, kali ini mereka harus datang lebih awal, apalagi persis di depan gerbang sudah parkir Bus Armada Jaya Perkasa yang akan mengantar mereka untuk melakukan Field Trip.
Untuk sampai tujuan perjalanan yang diperkirakan memakan waktu 2,5 jam , tidak disia-siakan mereka untuk ‘beraksi’ di bus AC sempit dengan seat 2-3. Antusiasme itu menjadi spirit untuk menghalau kepenatan yang mungkin akan dialami di perjalanan, sudah hampir 2 bulan mereka tidak melakukan kunjungan studi. Field Trip merupakan salah satu metode pembelajaran di Sekolah Peradaban, karena dengan kunjungan lapangan para siswa dapat mengalami langsung obyek studi yang mereka pelajari, sesuatu yang konkret (nyata) akan lebih mudah difahami oleh anak daripada suatu hal yang abstrak.
Kidzania menjadi pilihan tepat, ketika beragam profesi yang menjadi tema edukatifnya menampilkan simulasi bekerja yang hampir sama dengan kondisi lingkungan kerja yang sebenarnya. Selama ini Sekolah Peradaban memang mengalami kesulitan ketika akan mengenalkan berbagai profesi dan bagaimana pekerjaannya kepada siswa, dikarenakan obyek studi (atau tempat orang bekerja) tidak mudah dikunjungi apalagi berpencarnya lokasi.
“Aku mau jadi Polisi…”. Teriak para siswa ketika baru menginjak area bermain di Kidzania, hampir semua menginginkannya, tidak terkecuali siswinya. Lingkungan baru yang mereka kunjungi itu langsung menghadirkan sebuah simulasi dari pengunjung lain ketika mereka berseragam lengkap kepolisian dengan gagahnya menangkap penjahat. Pemandangan baru yang mereka alami, karena mereka pertama kalinya mengunjungi lokasi Kidzania Jakarta yang disetting menyerupai kota metropolitan ini. Empat jam lebih mereka mencoba menjadi ‘seorang pekerja’, tidak ada raut muka kelelahan, mereka begitu ‘rakusnya’ mengumpulkan Kidzo (mata uang Kidzania) hingga bertumpuk-tumpuk, bahkan secara sengaja mereka tidak menabungkannya di Bank BCA, untuk menunjukkan kebanggaannya atas jerih payah yang mereka kerjakan seharian.
Menjelang jam 3 sore, fasilitator pendamping mulai mengkondisikan siswa yang berpencar diberbagai stand pekerjaan, kali ini para siswa harus menggunakan uangnya untuk belanja kebutuhan hidupnya. Di titik inilah mungkin muncul kesadaran penting bagi fasilitator pendamping, bahwa ‘kebutuhan primer’ anak-anak ternyata bukan sembako sebagaimana yang kita fikirkan, mereka lebih butuh souvenir yang di sediakan Kidzania untuk menjadi bukti atas ‘tetesan keringat’nya.
Hari ini memang banyak pelajaran yang siswa-siswi Sekolah Peradaban peroleh, mereka belajar bekerja, belajar menghargai waktu, belajar menggunakan uang, belajar strategi efektif untuk berpenghasilan yang banyak dan banyak hal, yang pasti mereka belajar untuk menjadi sesuatu yang berharga bagi kehidupan bermasyarakat
LAST_UPDATED2