Kalau dalam kegiatan belajar mengajar formal non formal, inklusi non inklusi tidak ada ikatan emosional antara yang belajar dan mengajar maka pembelajaran itu hanya semu belaka (seperti menciptakan robot pintar tapi dingin tak berhati/perasaan) itu banyak terjadi didunia pendidikan kita, tapi di Sekolah Peradaban bukan itu yang kita inginkan, yang kita inginkan adalah manusia-manusia yang pintar tapi hangat dan mempunyai rasa simpati dan empati yang tinggi.

Kaitan pendidikan inklusi dengan ikatan emosional itu yang menjembatani sehingga para fasilitator dan siswa reguler mampu menerima, memahami dan mengerti setiap anak yang mungkin secara kasat mata mempunyai kekurangan (walau bagi Allah itu adalah sesuatu yang biasa, manusia lah yang membuat jadi luarbiasa).  Hal ini terlihat dengan diikutsertakannya mereka dalam ruang-ruang kelas dan setiap agenda kegiatan tahunan, karena terbiasa berkumpul bersama, melakukan kegiatan bersama, senang bersama , sedih bersama maka tidak terlihat lagi perbedaan-perbedaan apakah dia siswa inklusi atau non inklusi semua terlihat sama dan selaras, indahkaaan....

Mengenai pembinaan Sekolah Peradaban sudah mulai berantisipasi jauh-jauh hari ketika siswa-siswa inklusi sudah mulai ada dikelas 4, diawali dengan dikeluarkannya UASBN SD oleh pemerintah, Kami mulai berpikir bagaimana cara siswa-siswa inklusi ini tidak dipersulit oleh UASBN untuk lulus??? Nah, akhir diputuskan  untuk bertanya pada SLB terdekat yaitu Madani yang notaben siswanya inklusi semua, setelah berdiskusi  kami memutuskan untuk lanjut ke propinsi dan jadilah kami salah satu Sekolah Inklusi di kota Serang(dari 88 sekolah hanya 11 sekolah yang disebut sekolah Inklusi) hasil yang kami dapat siswa inklusi mengikuti UASBN dengan materi anak Inklusi (SLB), tidak mengikuti materi kelas regular,  ini adalah langkah kedepan. 

Untuk langkah sekarang atau keseharian,  kami dari awal ketika menerima siswa inklusi selalu mengatakan dapat menerima siswa inklusi dengan taraf untuk bersosialisasi dan tidak pernah menjanjikan macam-macam pada orang tua (tahu diri dengan kemampuan), tapi kami penasaran dan timbul rasa ingin tahu yang besar, juga ingin membantu ketika melihat tingkah polah para siswa inklusi.  Lalu setelah lewat pembinaan Diknas propinsi dan mencari tahu sendiri (lewat  buku, internet dan sharing dengan beberapa orang mantan praktisi SLB) dan Pelatihan Inklusi yang kami adakan sendiri maka kami belajar  untuk mengidentifikasi  mereka lewat observasi keseharian lalu bertanya pada ortu setelah itu  berdiskusi dengan dewan guru (assessment), setelah mengidentifikasi maka langkah berikut adalah membuat Program Pendidikan Individual untuk siswa (intervensi) dan program ini dievaluasi tiap akhir bulan, untuk sekarang Program Pendidikan Individual di buat oleh Wali kelas tapi kedepannya kami ingin ada fasilitator khusus yang menangani siswa inklusi dan memberikan intervensi awal  untuk siswa lalu dilanjutkan intervensi tersebut diruang kelas oleh wali kelas.  Guna observasi tidak hanya melihat kekurangan siswa tapi juga melihat keunggulan /potensi siswa yang dapat menjadikan keunggulannya ini sebagai bagian untuk berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat (menjadi mandiri) seperti contoh orang-orang yang berkebutuhan  khusus yang ditayangkan di KICK ANDI yang dapat hidup mandiri dengan keunggulannya.

Akhir kata,   Sekolah Unggulan karena hanya menerima siswa-siswa yang unggul adalah SEKOLAH YANG BIASA,     tapi Sekolah Unggulan yang menerima anak-anak yang tidak unggul (tidak bisa baca, lambat belajar,tidak bisa diam, punya kelainan fisik dan lain-lain) lalu menjadi unggul adalah SEKOLAH YANG LUAR BIASA, …Allahu Akbar. (Amie)

Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:
 
Please input the anti-spam code that you can read in the image.

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."